Apakah Anda pernah ingin menjadi penulis? Ketika memulai sebuah
tulisan apa yang melatarbelakangi Anda membuatnya? Untuk pemula,
sepertinya belum membuat target yang jelas dalam tulisannya, mungkin
baru dalam rangka mengasah keterampilan menulis. Ada yang memulainya
dengan menulis resensi, membuat puisi, menulis surat pembaca, atau
sekadar berbagi pengalaman di blog, atau yang paling mudah adalah
membuat status yang cukup panjang di media sosial.
Penulis yang benar-benar serius akan menjadikannya sebuah rutinitas
dengan capaian yang jelas. Pada umumnya, orang menulis dilatarbelakangi
oleh empat tujuan berikut ini, sebagaimana disimpulkan George
Orwell-seorang penulis brilian kenamaan Inggris-dalam esai politiknya “Why I Write“ :
- Sheer egoism
Banyak orang menulis karena ingin dikenang
oleh sejarah, ingin dikenal dan diakui keilmuan dan kepintarannya.
Pramoedya Ananta Toer tampaknya sepakat dengan alasan menulis karena
hasrat egoisme ini. Dia pernah berkata dalam Rumah Kaca, “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Memang tak bisa dipungkiri, alasan ini
penggerak terbesar orang menulis. Tapi setidaknya, mereka berbagi
kecerdasan dan ilmu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Hanya saja,
tentu tak cukup hanya ingin diakui dan dikenang, tentu dipertanyakan
juga arah tulisan-tulisannya. Karena sekali-kali, penulis yang
benar-benar menulis tidak pernah menulis sesuatu yang tidak memiliki
maksud.
2. Aesthetic enthusiasm
Sebagian orang menulis karena ingin
berbagi hal-hal yang mereka anggap indah atau bermakna estetik. Kenapa
orang menulis puisi dan prosa? Salah satunya adalah karena alasan seni
ini. Mereka mengerti bagaimana membahasakan keindahan hingga pembaca
ikut bahagia dan menikmatinya.
Saya dulu sangat suka menulis puisi. Waktu masih kuliah, saya menempel puisi-puisi itu di styrofoam catatan dan timetable
untuk diri sendiri. Teman-teman saya membacanya dan mereka menyukainya.
Akhirnya saya jadi tergerak untuk membaginya di mading kampus dan
majalah agar orang ikut merasakan apa yang saya tulis. Ketika ada yang
bilang, “kok kamu bisa sih nemu diksi kayak gini?” Dibilang seperti itu
saja saya sudah senang sekali.
Begitu juga dengan karya prosa seperti
novel yang kata-katanya sangat memerhatikan prosodi (rima dan pola
bunyi). Tak jarang pembacanya menemukan makna yang lebih mendalam dan
indah untuk diimajinasikan dan rasakan. Artinya, betapa pentingnya unsur
estetika ini mendorong seseorang dalam menulis.
3. Historical Impulse
Orang-orang terkadang menulis karena
dorongan ingin mengompilasikan atau mendokumentasikan hal-hal penting
yang pernah terjadi di era mereka untuk keperluan generasi mendatang.
Mereka ingin mewariskan apa yang dimiliki peradaban masa itu untuk
dipelajari, dikenang, atau dipertimbangkan pada peradaban manusia
selanjutnya.
Kita sangat berterima kasih pada
orang-orang yang telah menuliskan peristiwa sejarah di masa lampau, atau
menuliskan tradisi-tradisi budaya etnis yang berkembang dulu.
Tulisan-tulisan dengan latar belakang penulisan seperti ini bisa juga
berupa temuan-temuan penting dalam ilmu pengetahuan. Dari sana kita
belajar dan menghargai apa-apa yang telah dilalui manusia dalam
hidupnya. Itu semua menjadi bekal dan pembelajaran di masa mendatang.
Seperti kata Orwell dalam 1984, “He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.” Bagaimana ini terjadi? Salah satunya adalah karena pengaruh tulisan.
Saat ini, banyak orang berusaha menuliskan
nilai-nilai budaya mereka agar terus dapat dipelajari dan diwariskan.
Dulu, ketika masyarakat masih belum memahami arti penting dokumentasi
budaya dan sejarah, mereka berasumsi bahwa menyebarkan pesan lewat
bahasa ujar akan menyelamatkan yang nilai-nilai budaya. Ternyata, tidak
sesederhana itu.
Sahabat Rasulullah dulu berinisiatif untuk
menuliskan teks Al Quran agar dapat diwariskan ke generasi berikutnya,
walaupun jumlah penghapal Al Quran waktu itu sangat banyak sekali.
Mereka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan akan muncul di
kemudian hari pada generasi mereka. Sekarang, umat Islam telah menikmati
hasil tulisan tersebut yang berbentuk salinan teks dari bahasa ujar.
Saat ini, banyak nilai-nilai budaya hilang
karena tidak dituliskan, apalagi jika suatu masyarakat tidak mengenal
aksara tulis karena mereka hanya berkomunikasi lewat bahasa ujar. Mereka
tidak mengenal asal-usul sesuatu dengan jelas, sejarah yang mereka
dengar tidak akurat dan sulit dijadikan sebagai bukti.
4. Political Purpose
Orwell sangat sadar jika poin keempat ini
adalah terpenting. Dia mengakui jika tiga hal pertama juga adalah
tujuannya dalam menulis. Akan tetapi, yang keempat adalah tujuan
utamanya. Bagaimanapun, tulisan seseorang pastilah memiliki
kecenderungan pada suatu arus atau ideologi. Teknik beropini dan
mengarahkan pesan sesuai maksud benar-benar dirancang agar sampai pada
pembaca. Paling tidak, seseorang pasti akan menuliskan sesuatu yang
menjadi kecenderungan dirinya. Dia tahu mana yang harus dituliskan dan
mana yang tidak. Mengerti apa yang mesti ditonjolkan dan mana yang
disamarkan. Terlebih lagi, para penulis dengan alasan politis paling
memahami bagaimana merancang opini yang mereka giring dalam sebuah
tulisan akan dapat membawa perubahan bagi masyarakat, dan tentunya
sesuai dengan padangan politiknya.
Bisakah kita menuntut bahwa sebuah tulisan
haruslah netral? Tentunya ini hal yang sangat sulit sekali, kecuali
jika itu berhubungan dengan sains murni di mana dalam sebuah penelitian
data-data diujikan sesuai standar kevalidan yang objektif. Fakta dan
data berdiri sendiri, tidak bercampur dengan asumsi subjektif
penelitinya.
Sedangkan pada tulisan-tulisan ilmu sosial
termasuk penelitian sosial sekalipun, hasil temuan dan analisisnya
bergantung pada persepsi penulisnya, ke mana ingin diarahkan. Maka
subjektifitas penulis sangat kentara di sini. Begitu juga, ketika
membaca buku populer, novel, atau opini di media massa subjektifitasnya
dapat ditangkap dengan jelas. Di sinilah George Orwell bermain dalam
tulisan-tulisannya.
Orwell sendiri memulai tulisan pertamanya berupa puisi saat masih
duduk di sekolah dasar, ketika berumur sekitar 6 tahun. Hal yang menarik
adalah sewaktu kecil dia sudah bertekad untuk menjadi penulis. Dia
menulis apa pun peristiwa yang dia lalui dan amati ketika remaja.
Tampaknya ada benarnya jika kebanyakan penulis adalah seorang
introvert. Orwell remaja adalah seorang introvert yang tidak populer di
antara teman-temannya, sehingga dia punya banyak waktu untuk menuliskan
perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya. Sewaktu duduk di jenjang
perkuliahan, dia sering menulis dan mengirimkannya ke koran, bahkan dia
pernah diminta untuk menjadi editor di majalah kampusnya.
Orwell baru serius menulis pada umur 30 tahun dengan diselesaikannya novel pertamanya The Burmese Days.
Seiring dengan kehidupan Orwell yang mengalami perubahan, maka hal itu
juga membawa pengaruh pada tulisan-tulisannya. Orwell yang pernah
ditempatkan ke beberapa wilayah kolonisasi Inggris oleh pemerintah
Inggris menjadi memahami bagaimana jahatnya kolonialisme dan
imperialisme. Inilah yang mendorongnya untuk mendalami ideologi politik.
Latar belakangnya bekerja di bagian kepolisian Inggris di Burma dan
India cukup membuatnya melihat ketidakadilan. Maka, dalam novel-novelnya
dia selalu mengusung kritik terhadap isu kolonialisme dan
totalitarianisme. Dalam novel Animal Farm dan 1984,
Orwell mengkritik sistem ideologi Komunis a la Soviet yang menjurus pada
totalitarian. Dia berusaha mempromosikan pemikiran sosialisnya yang
egaliter dan adil. Walaupun, pada kondisi tertentu juga mengalami
keabsurdan.
Apakah Orwell tak pernah mengalami kendala dalam menulis? Pastinya.
Setiap orang pasti pernah mengalami hari-hari buruk dan hal-hal sulit
dalam hidupnya. Novel Orwell pernah dianggap oleh salah seorang kritikus
terlalu menjurus kepada jurnalisme, tidak enak dibaca dan kehilangan
sisi estetikanya. Walaupun di sana dituliskan fakta-fakta dan data-data
yang mungkin ingin diketahui orang banyak. Novel tetaplah novel,
estetika sangat penting. Karena itulah Orwell pernah berkata, “What I have most wanted to do throughout the past ten years is to make political writing into an art”.
Menulis dengan tujuan politis namun tetap membawa estetika. Itulah yang
diinginkan pembaca. Apa pun yang Anda tulis, jangan lupakan
estetikanya.
Pernahkah Anda membaca tulisan tentang politik tapi enak dan ringan
dibaca? Saya terkagum-kagum pada orang-orang yang mampu menyederhanakan
bahasa mereka yang rumit sehingga dapat dipahami oleh orang awam dengan
sangat baik. Contoh tulisan politik yang sederhana tapi estetis itu saya
temui ketika membaca buku Emha Ainun Najib seri Markesot, serta
beberapa opini di surat kabar nasional, sebutlah Kompas dan Republika.
Jika ingin mengungkap banyak data, maka beritalah yang tepat medianya,
bukan sebuah tulisan opini atau esai. Opini dan esai “seharusnya”
menjadi lahan untuk membingkai opini dan mempersuasi pembaca dengan
argumentasi yang logis dan estetis. Orwell sudah membuktikannya. Betapa
berpengaruh Animal Farm dan 1984-nya.
Repost dari blog uni gue, coz i sangat suka artikel ini :) https://rusydafauzana.wordpress.com/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar