Debat Internal FH 2016

31/10/16

Ohayooo semua
Kali ini gue mau berbagi cerita tentang sebuah lomba yang gue udah gue jalanin, lomba apa itu?yak liat judul aja juga udah tau:)) well kayaknya cerita ini agak sedikit panjang, awas bosen!

"Maba hebat ikut debat salam intektual kece"-jargon debin

Ya gue gak tau kenapa gue bisa daftar buat ikut ini lomba, gue berfikir waktu itu ini lomba biasa aja gitu dan karena temen gue juga getol banget nyuruh bayar uang pendaftaran cepet-cepet alhasilll terdaftar lah kita sebagai peserta lomba ini.

Hari pertama banget latihan
kita intermezo dulu dikasih materi-materi seputar debat sama pendapat2 ahli gitu, dikasih liat juga contoh adagium2 cantik dsb.
Hari kedua
Nah kita disuruh ngomong terserah apa aja bebas selama 3 menit tujuannya apa?tujuannya disini biar terbiasa dan lancar buat ngomong selama 3 menit itu nantinya, gue yang ga punya basic apapun tentang debat kacau banget gue ngomongin tentang taneman gitu selama 3 menit dan banyak jedanya gitu bingung mau ngomong apaan.lol. Abis itu baru kita ngomongin mosi yang mau kita bahas.
Seminggu kemudian
Ngomongin benda selama 3 menit udah lumayanlah dari yang ngomongin tentang pakaian, macem2 tas dll;)). Nyari mosi masih tetap berjalan seperti biasa yaitu lamban 1 mosi itu kita bisa ampe 3 hari nyarinya guys, yaallah ckck.
Dua minggu kemudian
Kegiatan bicara selama 3 menit hilang sudah diganti dengan latihan oral mosi debat yang sebenernya sama aja progresnya (jelek) dari yang pembawaan masih monoton, badan masih kaku, pernafasannya terlalu buru2 sampe cara berdiri pun juga (terkhusus dinda doang ini wkwk), bahasa yang masih belepotan dll. Parah.
Tiga minggu kemudian
Sama aja progres masih lelet banget mosi yang dibahas baru dapet 4 mosi disaat kelompok lain mungkin udah jalan 6/7 mosi, oralnya?masih sama aja.lel.
Empat minggu kemudian
Kelompok yang gak jelas emang kita disaat dua minggu lagi mau lomba mosi yang selesai dibahas cuma 5 dari 10 mosi, emang ga niat banget kita manusia2nya. Oralnya udah membaik sih malah lumayan.
Minggu kelima
Kita gak ngapa2in guys padahal seminggu lagi udah mau lombanya karna minggu ini juga udah pekan uts jadi gitu deh dan gue sama caca juga jadi panitia sebuah acara jadi kita ga bisa latihan deh.
H-1
Mampus mosi chamber udah keluar ada 3 mosi dan satu mosi adalah mosi yg belom kita bahas HAHA panik sepanik2nya gue mana posisi gue saat itu sama caca lagi di hotel acara kepanitian, buru2 balik naik taksi karna gaada yang mau nganterin yaiyalah orang lagi pada nyiapin acara:"(
Langsung latihan lagi nyari mosi ampe jam 12 malem guys baru kelar dan masih harus gue lanjut lagi di kosan and then baru tidur jam 3.
Hari H
Ngumpul jam 6 nyuri2 waktu buat oral 2 mosi lainnya baru caw ke TKP
"bisa gak bisa yang penting pd"
"songong aja dulu biar dikira bisa" -ka nimas
Gila lah itu deg-degan parahhh gue cuma takut gue gak bisa jawab interupsi dari lawan, dan ketika tampil pertama kalinya kalian harus tau gue gemeteran anjerrrr kertas yang gue pegang goyang2 gajelas gitu. Malu.
Tapi pas tampil kedua dan ketiga udah gak gemeter lagi dan alhamdulillah gue bisa jawab interupsinya dengan baik, yang lucu ketika gue nginterupsi lawan gue baru ngomong data gitu belom nyampe ke interupsinya eh waktunya udah abis sianying emang ccd wkwkwk tapi bomatlah. Dan secara keseluruhan penampilan kelompok gue not bad, berjalan lancar aman damai sentosa lah.

ketika gue tampil


Dan jeng jeng jeng pengumuman pun tiba siapa yang bakal lolos ke babak semifinal dan alhamdulilah kelompok gue gak lolos wkwk kenapa kita malah seneng gak lolos?karna mosi babak semifinal dan final adalah semua mosi yang belom kita cari HAHA yaudah akhirnya kita bisa bernafas lega beban selama sebulan terakhir udah lepas.

(1)

(2)

(3)
Nah itu adalah beberapa skor yang kelompok gue peroleh untuk masing-masing individu, nama kelompok gue itu TURKMENISTAN, bisa diliat nilai kita secara penyampaian dan substansinya lumayan malah termasuk bagus dan di chamber 4 ini kelompok kita itu dibawah kelompok yang maju ke babak semifinal alias nomer duanya lah total ada 4 tim disetiap chamber. Dan kelompok kita itu kelompok yang secara lengkap anggotanya ditulis oleh Bang Carlo (gue nyebut dia petinggi debat wkwk karna doi debaters yang hebat) yang cocok sebagai penerus2 debaters dan direcommend masuk KRD (kelompok riset dan debat;UPK) sedangkan kelompok lain cuma satu orang yang di rekomendasiin termasuk kelompok yg maju ke semifinal di chamber gue ini HAHAHA congkak banget dah jadinya kelompok kita karena tim yang 33nya bagus secara performance.

Buat info aja kita tuh kalah karena penilaian dosennya aja, mereka menilai secara subjektif kalo dia setujunya sama pro yang kontra jadi jelek gitu kesannya makanya si dinda akhirnya mau ikut KRD karna pengen jadi panitia debin dan merubah yang ngejuri jadi 2 petinggi debaters 1 dosen yang tadinya 2 dosen 1 petinggi debater. Biar adil katanya.he

Manager kempok kita (kak Icil)

Coach yang ngajarin kita debat (ka Nimas)
Itu yang mereka kirim di grup setelah kita denger pengumuman dan kalah, utuk utuk we love you kakak kakak kami yang hebat ini. Btw, mereka berdua ini adalah orang2 hebat yang udah pernah menang lomba debat tingkat nasional dan kak Nimas juga dapet penghargaan best speaker makanya kadang kalo ka Nimas lagi nyampein mosi pake nada2 debat gitu langsung gue rekam di HP ampe numpuk itu berapa belas voice note isinya suara dia doang, abisnya keren sih cara ngomongnya gak kayak kita-kita yang butiran debu ini.

TURKMENISTAN+ka Nimas (yg digerai)+ka Icil (yg pake rok pendek)

Tim Turkmenistan (dinda, aira, caca)
Itulah sedikit foto yang bagus dari tim gue.
Intinya banyak pengalaman yang bisa gue dapet dari gue ikut debin ini, dan sekarang gue malah gabut karna ga ada kerjaan biasanya latihan debat atau nyari mosi ampe malem walaupun ogah2an dan mageran gitu.
Lumayan kangen kebersamaannya sih wkwk.

Dah segitu dulu deh ceritanya see you di cerita lainnya.Dadahhhh.


About Writing

26/10/16




Apakah Anda pernah ingin menjadi penulis? Ketika memulai sebuah tulisan apa yang melatarbelakangi Anda membuatnya? Untuk pemula, sepertinya belum membuat target yang jelas dalam tulisannya, mungkin baru dalam rangka mengasah keterampilan menulis. Ada yang memulainya dengan menulis resensi, membuat puisi, menulis surat pembaca, atau sekadar berbagi pengalaman di blog, atau yang paling mudah adalah membuat status yang cukup panjang di media sosial.
Penulis yang benar-benar serius akan menjadikannya sebuah rutinitas dengan capaian yang jelas. Pada umumnya, orang menulis dilatarbelakangi oleh empat tujuan berikut ini, sebagaimana disimpulkan George Orwell-seorang penulis brilian kenamaan Inggris-dalam esai politiknya “Why I Write“ :

  1. Sheer egoism

Banyak orang menulis karena ingin dikenang oleh sejarah, ingin dikenal dan diakui keilmuan dan kepintarannya. Pramoedya Ananta Toer tampaknya sepakat dengan alasan menulis karena hasrat egoisme ini. Dia pernah berkata dalam Rumah Kaca, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Memang tak bisa dipungkiri, alasan ini penggerak terbesar orang menulis. Tapi setidaknya, mereka berbagi kecerdasan dan ilmu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Hanya saja, tentu tak cukup hanya ingin diakui dan dikenang, tentu dipertanyakan juga arah tulisan-tulisannya. Karena sekali-kali, penulis yang benar-benar menulis tidak pernah menulis sesuatu yang tidak memiliki maksud.


2. Aesthetic enthusiasm


Sebagian orang menulis karena ingin berbagi hal-hal yang mereka anggap indah atau bermakna estetik. Kenapa orang menulis puisi dan prosa? Salah satunya adalah karena alasan seni ini. Mereka mengerti bagaimana membahasakan keindahan hingga pembaca ikut bahagia dan menikmatinya.

Saya dulu sangat suka menulis puisi. Waktu masih kuliah, saya menempel puisi-puisi itu di styrofoam catatan dan timetable untuk diri sendiri. Teman-teman saya membacanya dan mereka menyukainya. Akhirnya saya jadi tergerak untuk membaginya di mading kampus dan majalah agar orang ikut merasakan apa yang saya tulis. Ketika ada yang bilang, “kok kamu bisa sih nemu diksi kayak gini?” Dibilang seperti itu saja saya sudah senang sekali.

Begitu juga dengan karya prosa seperti novel yang kata-katanya sangat memerhatikan prosodi (rima dan pola bunyi). Tak jarang pembacanya menemukan makna yang lebih mendalam dan indah untuk diimajinasikan dan rasakan. Artinya, betapa pentingnya unsur estetika ini mendorong seseorang dalam menulis.


3. Historical Impulse


Orang-orang terkadang menulis karena dorongan ingin mengompilasikan atau mendokumentasikan hal-hal penting yang pernah terjadi di era mereka untuk keperluan generasi mendatang. Mereka ingin mewariskan apa yang dimiliki peradaban masa itu untuk dipelajari, dikenang, atau dipertimbangkan pada peradaban manusia selanjutnya.

Kita sangat berterima kasih pada orang-orang yang telah menuliskan peristiwa sejarah di masa lampau, atau menuliskan tradisi-tradisi budaya etnis yang berkembang dulu. Tulisan-tulisan dengan latar belakang penulisan seperti ini bisa juga berupa temuan-temuan penting dalam ilmu pengetahuan. Dari sana kita belajar dan menghargai apa-apa yang telah dilalui manusia dalam hidupnya. Itu semua menjadi bekal dan pembelajaran di masa mendatang. Seperti kata Orwell dalam 1984, “He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.” Bagaimana ini terjadi? Salah satunya adalah karena pengaruh tulisan.

Saat ini, banyak orang berusaha menuliskan nilai-nilai budaya mereka agar terus dapat dipelajari dan diwariskan. Dulu, ketika masyarakat masih belum memahami arti penting dokumentasi budaya dan sejarah, mereka berasumsi bahwa menyebarkan pesan lewat bahasa ujar akan menyelamatkan yang nilai-nilai budaya. Ternyata, tidak sesederhana itu.

Sahabat Rasulullah dulu berinisiatif untuk menuliskan teks Al Quran agar dapat diwariskan ke generasi berikutnya, walaupun jumlah penghapal Al Quran waktu itu sangat banyak sekali. Mereka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan akan muncul di kemudian hari pada generasi mereka. Sekarang, umat Islam telah menikmati hasil tulisan tersebut yang berbentuk salinan teks dari bahasa ujar.

Saat ini, banyak nilai-nilai budaya hilang karena tidak dituliskan, apalagi jika suatu masyarakat tidak mengenal aksara tulis karena mereka hanya berkomunikasi lewat bahasa ujar. Mereka tidak mengenal asal-usul sesuatu dengan jelas, sejarah yang mereka dengar tidak akurat dan sulit dijadikan sebagai bukti.


4. Political Purpose


Orwell sangat sadar jika poin keempat ini adalah terpenting. Dia mengakui jika tiga hal pertama juga adalah tujuannya dalam menulis. Akan tetapi, yang keempat adalah tujuan utamanya. Bagaimanapun, tulisan seseorang pastilah memiliki kecenderungan pada suatu arus atau ideologi. Teknik beropini dan mengarahkan pesan sesuai maksud benar-benar dirancang agar sampai pada pembaca. Paling tidak, seseorang pasti akan menuliskan sesuatu yang menjadi kecenderungan dirinya. Dia tahu mana yang harus dituliskan dan mana yang tidak. Mengerti apa yang mesti ditonjolkan dan mana yang disamarkan. Terlebih lagi, para penulis dengan alasan politis paling memahami bagaimana merancang opini yang mereka giring dalam sebuah tulisan akan dapat membawa perubahan bagi masyarakat, dan tentunya sesuai dengan padangan politiknya.

Bisakah kita menuntut bahwa sebuah tulisan haruslah netral? Tentunya ini hal yang sangat sulit sekali, kecuali jika itu berhubungan dengan sains murni di mana dalam sebuah penelitian data-data diujikan sesuai standar kevalidan yang objektif. Fakta dan data berdiri sendiri, tidak bercampur dengan asumsi subjektif penelitinya.

Sedangkan pada tulisan-tulisan ilmu sosial termasuk penelitian sosial sekalipun, hasil temuan dan analisisnya bergantung pada persepsi penulisnya, ke mana ingin diarahkan. Maka subjektifitas penulis sangat kentara di sini. Begitu juga, ketika membaca buku populer, novel, atau opini di media massa subjektifitasnya dapat ditangkap dengan jelas. Di sinilah George Orwell bermain dalam tulisan-tulisannya.

Orwell sendiri memulai tulisan pertamanya berupa puisi saat masih duduk di sekolah dasar, ketika berumur sekitar 6 tahun. Hal yang menarik adalah sewaktu kecil dia sudah bertekad untuk menjadi penulis. Dia menulis apa pun peristiwa yang dia lalui dan amati ketika remaja.
Tampaknya ada benarnya jika kebanyakan penulis adalah seorang introvert. Orwell remaja adalah seorang introvert yang tidak populer di antara teman-temannya, sehingga dia punya banyak waktu untuk menuliskan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya. Sewaktu duduk di jenjang perkuliahan, dia sering menulis dan mengirimkannya ke koran, bahkan dia pernah diminta untuk menjadi editor di majalah kampusnya.
Orwell baru serius menulis pada umur 30 tahun dengan diselesaikannya novel pertamanya The Burmese Days. Seiring dengan kehidupan Orwell yang mengalami perubahan, maka hal itu juga membawa pengaruh pada tulisan-tulisannya. Orwell yang pernah ditempatkan ke beberapa wilayah kolonisasi Inggris oleh pemerintah Inggris menjadi memahami bagaimana jahatnya kolonialisme dan imperialisme. Inilah yang mendorongnya untuk mendalami ideologi politik.

Latar belakangnya bekerja di bagian kepolisian Inggris di Burma dan India cukup membuatnya melihat ketidakadilan. Maka, dalam novel-novelnya dia selalu mengusung kritik terhadap isu kolonialisme dan totalitarianisme. Dalam novel Animal Farm dan 1984, Orwell mengkritik sistem ideologi Komunis a la Soviet yang menjurus pada totalitarian. Dia berusaha mempromosikan pemikiran sosialisnya yang egaliter dan adil. Walaupun, pada kondisi tertentu juga mengalami keabsurdan.
Apakah Orwell tak pernah mengalami kendala dalam menulis? Pastinya. Setiap orang pasti pernah mengalami hari-hari buruk dan hal-hal sulit dalam hidupnya. Novel Orwell pernah dianggap oleh salah seorang kritikus terlalu menjurus kepada jurnalisme, tidak enak dibaca dan kehilangan sisi estetikanya. Walaupun di sana dituliskan fakta-fakta dan data-data yang mungkin ingin diketahui orang banyak. Novel tetaplah novel, estetika sangat penting. Karena itulah Orwell pernah berkata, “What I have most wanted to do throughout the past ten years is to make political writing into an art”. Menulis dengan tujuan politis namun tetap membawa estetika. Itulah yang diinginkan pembaca. Apa pun yang Anda tulis, jangan lupakan estetikanya.

Pernahkah Anda membaca tulisan tentang politik tapi enak dan ringan dibaca? Saya terkagum-kagum pada orang-orang yang mampu menyederhanakan bahasa mereka yang rumit sehingga dapat dipahami oleh orang awam dengan sangat baik. Contoh tulisan politik yang sederhana tapi estetis itu saya temui ketika membaca buku Emha Ainun Najib seri Markesot, serta beberapa opini di surat kabar nasional, sebutlah Kompas dan Republika. Jika ingin mengungkap banyak data, maka beritalah yang tepat medianya, bukan sebuah tulisan opini atau esai. Opini dan esai “seharusnya” menjadi lahan untuk membingkai opini dan mempersuasi pembaca dengan argumentasi yang logis dan estetis. Orwell sudah membuktikannya. Betapa berpengaruh Animal Farm dan 1984-nya.

Repost dari blog uni gue, coz i sangat suka artikel ini :) https://rusydafauzana.wordpress.com/
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS