Jika kamu psikotropika mungkin aku akan memilihmu sebagai nikotin sebab hanya kamulah candu ku.
Aku benar-benar menjadi seorang pecandu berat candu akan senyummu, candu akan caramu menggodaku, candu akan perbuatan manismu dan candu-candu lainnya. Jika mencandu orang bisa membuat kita gila maka aku sudah gila sedari dulu.
Mendengar suaramu bernyanyi untuk pertama kalinya sudah membuatku ketagihan dan merasa hambar jika penyanyi aslinya yang membawakan, menurutku memang hanya kamulah yang pantas membawakannya.
Canduku semakin menggila ketika kamu dengan seringnya memetik gitar kesayanganmu, mengalun indah bagai syair tak berujung.
Hingga disuatu kesempatan aku bisa melihat wajahmu dari dekat, melihat senyum manismu dan mendengar tawamu yang merdu. Ah betapa sempurnanya makhluk ciptaanmu satu ini Tuhan..
Sungguh aku tidak bisa melupakan senyumnya yang benar2 manis itu untung saja aku jarang melihat senyum manisnya itu dari dekat jika tidak tak bisa kubayangkan aku akan masuk rumah sakit karena diabetes.
Hingga tiba-tiba canduku hilang karena sebuah ketidakmungkinan yang terjadi.
Dia sudah punya pacar
Dia berbeda keyakinan denganku
Dia tak menganggapku lebih dari seorang adik kecil yang menggemaskan.
Ahh betapa sedihnya aku mengetahui apa yang kucandu itu tiba2 hilang. Seperti frustasi, kacau balau dan tak sanggup lagi karna sudah kukatakan canduku terhadapnya sudah melebihi batas tak wajar.
Tapi aku selalu berharap diatas ketidakmungkinanku semoga semoga dan semoga ada harapan walau sekecil ujung jari.
Kau akan tetap menjadi canduku sampai kapanpun karna butuh waktu yang lama agar seseorang berhenti dari candunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar